KPPU : Pemerintah Wajib Fokus Industri Perunggasan

KPPU : Pemerintah Wajib Fokus Industri Perunggasan

130
0
SHARE

KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) memberikan usulan kalau kedepannya pemerintah kian intervensi di upaya mereka meningkatkan kemandirian dalam industri unggas nasional, salah satunya dengan mengalokasikan insentif ke peternak unggas tanah air.

Syarkawi Rauf selaku Ketua KPPU, berpandangan kalau sejauh ini fokus pemerintah memeng hanya terserap dalam pencarian solusi akan ketersediaan daging sapi. Mengingat dalam pemikiranya, sebanyak 60% konsumsi daging nasional memang lebih diunggulkan di sektor daging ayam.

“Maunya kedepan aka nada upaya insentif ke sektor unggas. Mengingat dalam data mampu menunjukkan kalau konsumsi kita kebanyakan memang daging ayam,” kata dia menjelaskan.

Namun, pihaknya kini juga mengapresiasi akan adanya upaya pemerintah dalam menapaki keseriusan mereka dalam menjaga stabilitas harga dari daging sapi. Mengingat KPPU, sejauh ini juga ikutan memastikan kalau langkah pemerintah sudah berhasil dalam memastikan harga komoditas pangan, dan juga terkendali sebelum datangnya Idulfitri.

Simak Juga:  Pasokan Ayam Kampung Lokal Masih Jauh Dari Permintaan Pasar

Salah satunya kedepannya KPPU juga fokus mengawasi semua stabilitas harga daging sapi, kemudian gula serta minyak goreng di pasaran lokal. “Saat ini pihak kami memang sedang fokus dalam mengawasi 3 komoditas itu, dan mungkin lainnya kini juga pantasnya di awasi dengan sangat baik juga” imbuhnya.

Bukan hanya soal itu saja, guna memperkuat industri unggas secara nasional, KPPU juga sudah mengusulkan ke pemerintah melalui Kementerian Perdagangan guna segera mengatur kebijakan soal HET (harga eceran tertinggi) dalam perdagangan unggas.

Mengingat penetapan HET memang bertujuan dalam menjaga harga komoditas sektor unggas menyeluruh dari hulu sampai hilir, dan dengan itu biaya produksi mampu terkontrol serta para peternak tidak merugi lagi.

Simak Juga:  Menko Darmin - 24 Juli Sebagai Hari Florikultura

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY