Home Info Agribisnis Pertanian Ragam Persoalan Petani Kopi Cimenyan

Ragam Persoalan Petani Kopi Cimenyan

838
0
SHARE

Bandung – Sekalipun pertanian kopi Cimenyan Kabupaten kian hari kian bertambah, namun terdapat persoalan mendasar bagi kesejahteraan karena para petani tidak bisa cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inilah salahsatu pokok persoalan yang paling menonjol dari sebuah pertemuan para petani kopi, peneliti, aktivis dan wartawan di Kampung Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Pertemuan yang difasilitasi Yayasan desa bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama Kecamatan Cimenyan itu mempertemukan beberapa pegiat petani kopi yang berbeda kondisi. Berbagi problem dan pemikiran menghasilkan pengetahuan tentang apa yang sesungguhnya terjadi di kalangan petani kopi kawasan Kabupaten Bandung utara tersebut.

Herman, seorang petani yang juga pegiat pemberdayaan pertanian menilai, banyak petani kopi yang sudah menghasilkan produktivitas kopi secara baik namun penghasilannya tak kunjung membaik. Di lingkungannya, kawasan utara Sindanglaya itu pertanian kopi milik Herman dan 200 anggota kelompok tani sudah relatif berjalan baik dari sisi kolektivitas organisasi. Bahkan Herman dkk sudah mampu memproduksi kopi olahan sampai tahap pemasaran. Namun pada urusan kepentingan banyak petani, Herman melihat belum ada teroboasan yang mendasar sehingga panen kopi tak menghasilkan duit.

“Sampai yang tahap maju misalnya. Saya ini sudah bisa mengolah kopi, sudah punya mesin, sudah sampai keliling Indonesia, sudah sampai ke kementrian hingga presiden. Namun masalahnya bertemu dengan orang-orang besar itu tak juga mengubah kehidupan kami. Buat apa saya ketemu pejabat tinggi kalau ujung-ujungnya tiap panen gak jadi duit,” katanya disambut tawa hadirin.

Sementara itu Nanang Muhammad Yusuf, petani dan ketua Kelompok Tani Pondok Buah Batu, Kampung Buah Batu menyatakan, problem yang dialami oleh petani di lingkungannya jauh lebih mendasar, yaitu soal ilmu pentahuan, praktik pengolahan, perluasan lahan dan bibit. Menurut Nanang Yusuf, petani kopi di Pondok Buahbatu belum pernah sekalipun mendapat penyuluhan.

“Kami baru mulai setelah teman-teman dari ITB, Pak Basuki Suhardiman sering memberikan pengetahuan kepada kami. Karena itu kami bisa belajar lebih serius bercocok tanam, dan kami harapkan segera muncul koperasi untuk modal, juga alat-alat pengolahan dan juga pelatihan marketing. Pemerintah tentu harus bisa membantu para petani kopi,” ujar Nanang.

Toha, seorang petani kopi pengelola lahan Hutan Arcamanik yang juga seorang peternak sapi memberikan pandangan bahwa selama ini pemerintah seringkali salah arah dalam urusan pertanian. Tidak pernah serius memberikan pengetahuan maupun pendampingan sehingga banyak program yang gagal.

“Pemerintah kita itu sering pinter. Yang mau tani dikasih ternak. Yang mau ternak dikasih bibit pertanian. Banyak bantuan turun tapi salah sasaran sehingga gagal. Banyak modal yang dijual karena tidak tepat memberikan kepada orang desa. Pemerintah masih sering pilih penerima bantuan berdasarkan kedekatan dengan pejabat, bukan karena kesiapan mengelola. Ini saya bicara kenyataan,” ujar Toha meledek.

cikawari2

Solusi konkret

Sementara itu sebagai fasilitator pengetahuan perkopian, Basuki Suhardiman dari Yayasan Odesa mengatakan bahwa apa yang dikeluhkan petani itu nyata dan belum mendapatkan solusi secara baik dari pemerintah karena pemerintah seringkali hanya bekerja di permukaan.

“Kita saksikan empat titik dalam satu desa saja sudah berbeda problem. Itu butuh solusi berbeda. Satu persatu problem harus dibuka dan kemudian diusahakan solusinya secara konkret. Apa yang disampaikan tadi nanti kita urai satu persatu dan kita harus melangkah sesuai tahapan. Negara-negara lain sudah maju seperti Brazil dan Ethiopia bisa maju karena solusi yang tepat,” kata Basuki yang juga Peneliti Senior Comlabs Institut Teknologi Bandung itu.

Basuki yang selama ini menekuni bisnis pertanian kopi, riset dan juga pemberdayaan melihat bahwa sebenarnya problem kaum tani itu bisa diurai dengan dua cara. Pertama peran negara yang serius dan tidak salah sasaran. Tidak asal-asalan dalam praktik di lapangan baik untuk urusan pembibitan, pemberdayaan, pasca panen, pengemasan dan pemasaran. Kedua, kerjasama antar petani dan antar pelaku bisnis untuk tukar informasi dan jalinan bisnis.

“Saya memang tiap hari berada di lingkungan akademisi, tetapi saya tidak menjadikan akademisi sebagai satu-satunya jalan keluar. Pengetahuan petani lebih pinter karena pengalaman di lapangan bertahun-tahun. Karena itu kita di sini saling belajar mengurai masalah dan mencari jalan keluar secara bersama-sama,” terangnya.

Herman yang sebelumnya sudah kenal dengan Basuki Suhardiman menilai apa yang disampaikan Basuki tersebut selama ini sering berbeda dengan pemerintah. Ia mengambil contoh misalnya, Basuki bisa menjawab problem pengolahan pasca panen dengan cara memberi skala prioritas pada gudang dan kolam cuci kopi.

“Salahsatu kebutuhan mendasar seperti ini yang patut dipikirkan secara serius. Nanti kami akan kumpulkan petani kopi bersama-sama memikirkan ini,” terang Herman.

Sementara Toha menilai, kelemahan pemerintah dalam hal pembibitan selama ini sudah dijawab oleh Basuki Suhardiman dengan penyediaan bibit yang bagus. “Bibit pak Basuki bagus, apalagi saya dikasih ribuan secara gratis,” terang Toha yang sebelumnya mengeluh tidak punya modal tanam untuk beli bibit.-Yusuf/Choiril.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here