Home Info Agribisnis Pertanian Tinggi Permintaan, Petani Lirik Kopi Arabika

Tinggi Permintaan, Petani Lirik Kopi Arabika

1476
0
SHARE
Petani memetik kopi varietas Arabika Kate di perladangan dengan pola Tlahab di kawasan lereng Gunung Sindoro, Desa Tlahab, Kledung, Temanggung, Jateng, Senin (19/5). Petani di wilayah lereng Gunung Sindoro tersebut menerapkan sistem pertanian dengan tumpang sari antara tanaman kopi sebagai tanaman keras dengan tanaman tembakau yang bertujuan mengurangi erosi sekaligus mempunyai nilai ekonomi tinggi atau dikenal dengan nama pola Tlahab. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/Asf/14.

Permintaan kopi dipasaran saat ini terus berkembang. bukan hanya pasar domestik, kopi juga memiliki nilai ekspor yang sangat menjanjikan karena permintaan kopi indonesia di luar negeri cukup besar. permintaan kopi masih didominasi oleh kopi arabika, dikalangan petani kopi, kopi arabika memiliki nilai jual yang tinggi karena di imbangi oleh permintaan pasar yang pesat. Hal ini dimanfaatkan oleh sejumlah petani dilereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejumlah petani dikawasan tersebut saat ini sudah mulai melirik kopi arabika,  dan sudah banyak juga yang mulai membudidayakannya. Hal tersebut dilakukan karena kopi jenis arabika memiliki nilai jual yang tinggi dan laku dipasaran.

Para petani menuturkan bahwa, sudah melakukan budidaya tanaman kopi arabika sejak dua tahun lalu namun hal itu masih dalam tahap ujicoba tanam. Dalam tahap tersebut sekitar 30 tanaman sudah di uji coba. Dari sekitar 30 tanaman tersebut mampu untuk menghasilkan 6 sampai 8 Kg biji kopi arabika. Alasan petani mulai melirik kopi arabika karena dari segi harga kopi ini memiliki nilai jual tinggi dibanding kopi robusta dan juga permintaan kopi arabika di pasar masih terbilang stabil. Kopi robusta dihargai sekitar Rp 25 robu perkg sementara itu kopi arabika bisa mencapai Rp.50 ribu perkg ditambah dengan permintaan yang tinggi.

Dikalangan petani gunung wilis, sudah ada tanaman kopi namun jenis kopi robusta dan sudah ditanam secara turun menurun sehingga petani tinggal memanen saja, namun untuk jenis kopi arabika harus dilakukan budidaya kembali. Saat ini Kelompok Pesanggem Hutan Kreatif (KPHK) Wilis menjelaskan bahwa, dalam kurun waktu dua bulan ini sudah melakukan budidaya bibit kopi sekitar 1.600 bibit dan sudah memasuki masa penyemaian. Diharapkan mampu menembus 10 ribu pohon kopi. Yang menjadi kendala adalah jumlah lahan, karena tidak semua petani memiliki lahan yang luas untuk menanam kopi. Saat ini para petani terus mengupayakan untuk mengajak perhutani Kediri bekerja sama dalam menyiapkan lahan kopi untuk para petani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here