Bank mandiri yang mulai mencari peluang pembiayaan kredit ke sektor komoditas, mulai berancang-ancang untuk membidik komoditas yang harganya mulai naik, seperti sawit dan karet. Royke Tumilaar, Direktur Korporasi Bank Mandiri mengatakan “Meski begitu kami memperkirakan pertumbuhan kredit sektor komoditas tak akan besar dibandingkan pertumbuhan kredit ke infrastruktur”. Dimana pertumbuhan kredit pada komoditas masih hanya sebesar 10% terhadap total kredit, dimana dari sektor infrastruktur sendiri mencapai 40%.
Ia melanjutkan, bank mandiri juga mengincar kredit dari sektor pertambangan seperti timah dan batubara yang pernyaluran kreditnya akan mengikuti pergerakan pasar. Dimana kredit ke sektor pertambangan pada akhir Desember 2016 mencapai Rp 15,5 Triliun yakni meningkat 29% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Bank mandiri hanya akan menyalurkan kredit ke komoditas dengan syarat mereka akan melakukan lindung nilai atau hedging. Dimana akan menjaga kualitas kredit saat harga bergerak naik atau turun.
Bank pemerintah ini pun menjadikan infrastruktur sebagai fokus utamanya yang bertujuan untuk meningkatkan kredit korporasi pada tahun ini. Sebagai contoh, bandara Kulon Progo yang akan menerima kredit sindikasi dari Bank Mandiri sebesar 1 Triliun untuk pembangunan kereta bandara.
Secara keseluruhan, Royke mengatakan, kredit korporasi meningkat sebesar 10-11% pada tahun ini dimana yang menjadi andalan adalah kredit korporasi. Bank Mandiri mencatatkan level outstanding atas kredit korporasi yang telah menyentuh Rp 220 Triliun pada akhir tahun lalu.
““Nah, kami dapat membiayai minimal Rp 5 triliun di tahun ini saja sudah baik,” lanjut Royke.
Plafon kredit korporasi yang diproyeksikan Bank Mandiri pada tahun ini adalah sebesar 30 Triliun, 40% untuk kredit infrastruktur, dan sisanya untuk perdagangan besar, manufaktur, konstruksi, dan komoditas.