Home Info Agribisnis Alasan Penyerapan Jagung Bulog Tidak Maksimal

Alasan Penyerapan Jagung Bulog Tidak Maksimal

10
SHARE

Badan Urusan Logistik (Bulog) mengakui bahwa serapan jagung petani pada tahun 2024 belum optimal. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain:

1. Keterbatasan Fasilitas Pengering

Bulog saat ini hanya memiliki dua fasilitas pengering untuk jagung, yaitu di Dompu dan Gorontalo. Kapasitas pengeringan kedua fasilitas ini masih terbatas, sehingga Bulog tidak dapat menyerap seluruh hasil panen jagung petani.

“Keterbatasan pengeringan ini menjadi salah satu kendala utama dalam serapan jagung,” ujar Direktur Utama Bulog, Arief Nasution, seperti dikutip Bisnis.com.

Ia menambahkan, Bulog saat ini sedang membangun beberapa fasilitas pengering jagung baru di beberapa daerah sentra jagung.

2. Harga Jagung Petani Tinggi

Harga jagung petani saat ini relatif tinggi, yaitu di atas Rp 6.000 per kilogram. Hal ini membuat Bulog kesulitan untuk menyerap jagung petani karena harga yang ditawarkan Bulog lebih rendah, yaitu Rp 5.450 per kilogram.

Simak Juga:  Integrasi Sawit dengan Budidaya Sapi di Sulawesi Tengah

“Harga jagung petani saat ini memang tinggi, sehingga Bulog harus berhati-hati dalam melakukan serapan,” ujar Arief.

Ia menambahkan, Bulog akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi masalah serapan jagung petani.

3. Kualitas Jagung Petani Tidak Memenuhi Standar

Sebagian besar jagung petani tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh Bulog. Hal ini dikarenakan petani belum menerapkan teknik budidaya yang optimal, sehingga menghasilkan jagung dengan kadar air yang tinggi dan tingkat kerusakan yang tinggi.

“Bulog hanya dapat menyerap jagung petani yang memenuhi standar kualitas,” ujar Arief.

Ia menambahkan, Bulog akan terus melakukan pembinaan kepada petani jagung untuk meningkatkan kualitas panen mereka.

Simak Juga:  Demi Rumput Laut, RI Gandeng China dan Singapura

Penyaluran SPHP Menunggu Puncak Panen Raya

Badan Urusan Logistik (Bulog) telah menyerap 8.500 ton jagung petani per tanggal 2 Mei 2024. Serapan terbesar dilakukan di Gorontalo dan Bolaang Mangondow Sulawesi Utara (4.500 ton) dan Bima, Nusa Tenggara Barat (3.500 ton).

Meskipun stok jagung mencapai 8.000 ton, Bulog belum menyalurkan jagung SPHP (Harga Pangan Pokok Pemerintah) kepada peternak rakyat. Alasannya, Bulog ingin menunggu panen raya jagung berakhir untuk mulai menstabilkan harga jagung pakan di peternak.

“Penyaluran jagung SPHP akan dilakukan setelah kami memiliki stok yang cukup, yaitu setelah panen raya berakhir,” ujar Bayu, Dirut Bulog.

Menurut Kementerian Pertanian (Kementan), total produksi jagung sejak Januari – Juni 2024 diperkirakan mencapai 6,56 juta ton. Angka ini lebih rendah 0,77 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Puncak panen raya jagung terjadi pada Maret 2024 dengan volume 2,3 juta ton. Produksi jagung diramal akan mulai melandai memasuki Mei hingga Juni 2024.

[Sumber]